Think Outside The Grain!

5 Sosok Pegiat Pangan Asal Indonesia

Not all heroes hold weapons, some just fight for food security.

Kalo ngobrolin soal pahlawan, pikiran kita pasti langsung kebayang sosok-sosok yang membawa senjata dan berjuang mempertahankan negara dari penjajah.

Tapi, pahlawan gak melulu sosok yang membawa senjata? Petani pun termasuk pahlawan, lho. Lewat petani, ketersediaan pangan di Indonesia bisa terpenuhi.

Sayangnya, perkembangan teknologi yang masif seperti sekarang mempengaruhi perubahan selera pangan di masyarakat. Saat ini, banyak masyarakat yang lebih memilih menyantap makanan cepat saji daripada makanan lokal.

Permasalahan pangan ini kemudian mendorong sosok-sosok berikut untuk terus mengenalkan dan mempertahankan pangan lokal. Siapa aja sih mereka?

Annisa Pratiwi

Berangkat dari kekhawatiran akan makanan yang dikonsumi anak-anak, Annisa Pratiwi lantas mendirikan Ladang Lima, sebuah perusahaan yang memproduksi produk makanan gluten free berbahan dasar tepung singkong, pada tahun 2014.

Singkong dipilih Annisa sebagai bahan dasar utama karena Indonesia merupakan salah satu negara penghasil singkong terbanyak di dunia. Apalagi, umbi-umbian yang satu ini masih kurang dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

Perjalanan mempromosikan Ladang Lima agar bisa diterima masyarakat tidaklah mudah. Namun, Annisa tak menyerah. Ia terus melakukan berbagai pendekatan hingga akhirnya berhasil menjual tepung singkong dan aneka produk turunan.

Bahkan, produk Ladang Lima telah merambah pasar ekspor, seperti Sydney, UK, Hongkong, Chicago, Singapura, Malaysia, Melbourne, serta California.

Wied Harry Apriadji

Lelaki yang merupakan alumnus dari jurusan gizi masyarakat dan sumber daya keluarga IPB ini adalah pakar yang menekuni food combining, yakni pola makan untuk melancarkan pencernaan dengan cara memadukan nutrisi secara tepat.

Karena ketekunannya menjalani food combining, Wied sukses menurunkan kadar trigliseridanya yang sangat tinggi dan tidak pernah melonjak lagi. Selain itu, ia juga tidak mudah terserang penyakit, seperti flu, masuk angin, dan pusing.

Berbekal pengalaman yang dimilikinya, Wied getol mempromosikan pola makan sehat dan pangan lokal lewat tulisan, kelas, hingga Instagramnya (@wiedharry).

Beberapa buku milik Wied, di antaranya berjudul Menu Sehat 30 Hari, Masakan China Halal, Variasi Makanan Sehat Bayi, dan 120 Jus Dahsyat.

William Wongso

Penggemar kuliner pasti tidak asing dengan sosok Chef William Wongso. Lelaki asal Malang ini dikenal sering mempromosikan kuliner lokal ke mancanegara.

William mengawali karirnya dengan cara mempelajari kuliner secara otodidak. Ia menggali soal kuliner tidak hanya di Indonesia, tetapi juga sampai ke Eropa.

Bahkan, saking cintanya dengan tanah air, William tidak pernah absen membawa bumbu-bumbu khas Indonesia setiap diundang ke berbagai acara internasional.

Atas jasanya dalam bidang kuliner, William banyak menerima penghargaan, baik lokal maupun internasional, seperti Wongso Chevalier dans L’ordre National du Merite dan Best Cookbook of The Year. Ia pun pernah menjadi mentor rendang Gordon Ramsay dalam tayangan Uncharted, sehingga dijuluki duta rendang.

Dicky Senda

Setelah beberapa tahun punya pekerjaan mapan, jaringan pertemanan yang luas dan dikenal sebagai penulis, Dicky justru memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Timor Tengah Selatan.

Bersama dengan orang-orang yang satu visi, Dicky bertekad untuk membangun kampung halamannya lewat Komunitas Lakoat Kujawas. Awalnya, komunitas itu berfokus pada literasi karena minimnya akses pendidikan di sana. Namun, seiring berjalannya waktu mereka bisa memunculkan kreativitas lain, seperti kesenian.

Menariknya lagi, Lakoat Kujawas juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan potensi desa mereka, seperti di bidang pertanian, hingga membantu memasarkan hasil tenun para ibu, dan produk pangan lokal antara lain mengganti nasi dengan sorghum, pizza berbahan tepung fermentasi singkong, dan lainnya.

Soraya Cassandra

Berawal dari keresahannya akan masyarakat urban yang kurang terampil dalam merawat alam, Soraya Cassandra membuat Kebun Kumara pada tahun 2016.

Kebun Kumara adalah kebun belajar yang lebih menekankan soal kebun pangan yang hasilnya bisa dimakan dan dinikmati. Beberapa tanaman yang ditanam pun seperti kangkung, cabai, tanaman bumbu dapur, hingga tanaman obat.

Berbekal pengetahuan seputar pertanian serta berbagai trial and error yang telah dilakukan Sandra, Kebun Kumara akhirnya mengembangkan 3 bisnis, yakni edukasi, penjualan kompos dan bibit, sampai dengan edible landscaping.

Gambar

Ilustrasi Pangan Lokal (Photo by Chuttersnap/Unsplash)

Sumber

IDN Times

Kabar Sehat

Kompas

Tribunnews

Good Life

Nabila Amelia

all author posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are makes.